Sepenggal Kisah Seorang Lelaki dan Kelaminnya

Thursday, October 22, 2009

Suratmi sekarang hanya bisa meraung memeluk jasad suaminya. Jam tuju pagi ini Indarto meregang nyawanya. Kelaminnya membusuk oleh sipilis akut, komplikasi dengan diabetes. Itu vonis dokter setahun yang lalu.

Saat terbujur kaku, tubuh Indarto tak lagi dikerumuni lemak seperti saat dia membaptiskan anak bungsunya setahun juga sebelum di vonis dokter. Kurus, kering dan kelihatan tua.

Padahal empat hari yang lalu Indarto sengaja memesan Bakmi godok tanpa vetsin ke sukaan istrinya dan martabak manis ke sukaan si bungsu. Katanya, “Sekarang bapak ulang tahun, walaupun Galang minta ditraktir di Pizza Hut, dan belum bisa bapak penuhi, setidaknya martabak manis ini bisa menjadi pengganti..”. Galang, si bungsu mengangguk. Sebisanya memahami kondisi bapaknya. Suratmi tersenyum.

Empat hari yang lalu Indarto genap berusia 42 tahun. Perayaan ulang tahun sederhana itu, merupakan saat terkhir kalinya Indarto memeluk dan mencium kening si bungsu, Galang. Dan berujar mesra kepada Suratmi. “Aku akan sembuh, kelak, dan jika saat itu tiba, aku akan mengajak kamu, Indri dan Galang ke puncak Ketep. Kita piknik.” Indarto tersenyum.

Matanya nanar menatap iba Suratmi yang terpejam pulas. Tubuh kurus, kering itu tak lagi sehangat kemarin. Begitu dingin. Kaku.

1 comments:

NanLimo said...

wew..... kelamin.. kelamin....
makanya jgn diturutin tuh maunya si bujang.... hehhehehe

Post a Comment

 

Copyright © 2011 Mixx Blogger Template - Blogger Templates by www.bloggerreflex.com

Sponsored by: trucks.reviewitonline.net | suv.reviewitonline.net | www.ticketmasternetwork.com